Friday, February 04, 2005

aksi hari ini

Baru saja aku balik dari air mancur undip bawah, lumayan capek, apalagi hari ini begitu terik sekali mentari membakar kota Semarang.
Bukanlah suatu hal yang biasa bagiku, untuk pergi ke bawah, maklum kampus kami berada di daerah Tembalang di Semarang bagian atas. Ditambah lagi dengan kejadian hilangnya sepeda motorku beberapa minggu yang lalu yang makin membuatku tidak pernah melihat dunia Semarang bawah, soalnya males kaki ini kalo harus disuruh untuk naik angkot, apalagi kalo harus menunggu begitu lama dan setelah dapat harus berdiri pula.
Siang tadi sebelum shalat jumat, Iman yang kuliah di jurusan industri mengajakku untuk ikutan aksinya saudara - saudara seperjuangan yang hendak menyuarakan ide - ide dan kritik mereka bagi pemerintahan Indonesia saat ini. Terang saja aku sangat antusias, karena memang jarang sekali aku ikutan aksi yang demikian.
Benar juga, sehabis shalat jumat aku berangkat bersama Iman, temanku itu ke air mancur undip bawah. Sesaampainya di sana ternyata telah berkumpul teman - teman yang menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Pembebasan. Memang tidak begitu banyak hanya sekitar 30 orang, yang terdiri dari mahasiswa ikhwan(laki - laki) dan beberapa akhwat(perempuan).
Dengan membawa tulisan besar yang berbunyi "Tegakkan Pemerintahan Islam", aku mendengarkan orasi yang dibawakan oleh akhi - akhi itu. Meskipun tidak mendengarkan dari awal, karena kami datang terlambat, tapi aku dapat mengerti pada orasi pertama itu, diserukan kritikan atas penanganan pemerintah terhadap bencana di Aceh yang dinilai tidak maksimal. Pemerintah terlalu lemah, sehingga membiarkan pihak asing begitu saja ikut campur terhadap kondisi Aceh. Bukan hanya mengenai bantuan yang mereka berikan yang nantinya akan mencekik leher anak dan cucu negeri Indonesia ini sedangkan rakyat dibohongi dan dibuai dengan bantuan asing tersebut, juga mengenai ketidakberesan sosial yang terjadi di bumi Aceh saat ini, yang pemerintah tidak ketahui atau mungkin tidak mau tahu itu. Bayangkan di Aceh sekarang tengah terjadi tindakan - tindakan yang tidak bisa ditolerir oleh norma apapun di dunia ini. Di sana tengah terjadi, penculikan - penculikaan terhadap anak - anak Aceh yang entah mau dijadikaan apa mereka itu seperti yang diinginkan pihak - pihak asing tersebut yang menamakan dirinya relawan. Perusakan mental daan akhlak juga gencar dilakukan di kamp - kamp pengungsian, untuk apa barang semacam buku - buku porno disebarkan di sana kalo bukan untuk merusak akhlak generasi - generasi Aceh yang menjunjung tinggi syariah Islam ini.
Pemerintah dinilai mengatasi permasalahan yang ada ini secara kapitalis, yang mementingkan maateri yang entah hingga berapa triliun itu untuk memulihkaan kondisi Aceh tanpa memikirkan apa yang terjadi di Aceh sana, padahal sejarah membuktikan bahwa cara semacam ini tidak akan mampu memperbaiki kondisi negara, Argentina misalnya mereka sampai sekarang tetap saja tidak dapat membangun negara mereka dari keterpurukan akibat hutang luar negerinya. Akan kah Indonesia hingga di masa yang akan datang tetap dililit dengan hutang yang diperhalus dengan kata bantuan?
Seruan - seruan agar pemerintah menegakkan syariah Islam dalam memimpin negeri ini dilontarkan, karena sebenarnya syariah islam tidak hanya untuk masyarakat muslim saja, syariah Islam dalam pemerintah mencakup seluruh masyarakat yang universal. Memang pandangan orang saangat subjektif, akan tetapi menurutku syariat Islam dalam pemerintahan bebas dari cacat yang membuatnya tidak layak untuk digunakan.
Orasi berikutnya tentang bbm yang hargaanya kian melambung, yang katanya subsidi tersebut untuk alokasi yang lain. Harga bbm ingin disamakan dengan kondisi pasar dunia, tentu saja itu tidak mungkin, karena kondisi kita berbeda? Gaji profesor di Indonesia saja kalah kalau dibandingkan dengan gaji tukang sapu di Singapura, jelas lah dari segi pendapatan raakyatnya saja hal itu sudah tidak mungkin...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home